Saya biasa mengabadikan suatu momen dalam tulisan. Entahlah, rasanya lebih magis. Dan kali ini akan mencoba bercerita tentang the worst nightmare ever in my life. But i'm doing okay now.
17 Agustus 2014
Pukul 14.10
Eka Hospital Pekanbaru
Papa berpulang ke rahmatullah, untuk selama-lamanya
Jadi gini kronologis ceritanya.
Seperti biasa papa pulang dari Petapahan setelah kerja seminggu disana. Trus papa ngeluh sakit lutut. Mikirnya biasa aja karena beliau udah berumur dan emang sering sakit persendian. Tapi beberapa hari kemudian sakit lututnya makin parah dan akhirnya bawa ke Emergency Medical Chevron. Disana dikasi obat lalala gitu dan istirahat. Eh beberapa hari lagi sakit lututnya makin parah. Sampai-sampai papa ga bisa jalan dan harus dipapah. Bawa ke emergency lagi akhirnya disarankan untuk langsung ke Eka Hospital.
Disini semuanya berawal. Saya agak lupa gimana kronologisnya, akhirnya papa disarankan untuk dirawat disana. Ya dari jauh-jauh hari saya udah bisa prediksi kalo beliau bakalan dirawat disana. Diagnosis dokter papa gejala tifus. Dirawatlah papa untuk semalam disana. Karena saya harus bikin tugas, pulanglah saya ke rumah. Mama yang nemenin papa disana.
Besok paginya saya mampir ke rumah sakit sebelum pergi kuliah. Ya main-main bentar disana dan pas mau ke kampus papa ngomong, "Adek ntar malam nginap disini kan?" and i said, "Iya pa tenang aja adek nginap kok". Saya pamit pergi dan mencium tangan beliau untuk terakhir kalinya. And i never thought, that was our last conversation. That was the last time I can see him talking and looking to my eyes. Because after that, he just sleep while I'm staring at him.
Sekitar pukul 2 mama nelfon. Karena saya lagi ada kelas ga saya angkat. Dan akhirnya mama sms, "Papa masuk ICU. Adek ke rumah sakit sekarang". Sekujur tubuh saya langsung dingin dan menggigil. I know something bad happened. And THE WORST will be happened too. I know it. Akhirnya saya mengumpulkan seluruh tenaga dan konsentrasi supaya bisa nyetir dengan selamat sampai ke rumah sakit. Rupanya papa masuk ICU karena kesulitan pernafasan. Udah dibantu dengan oksigen ga mempan makanya bawa ke ICU. Disana kondisi papa dibuat ga sadar biar ga capek nafasnya
Ketika papa masuk emergency kemarin-kemarin, saya udah lapor sama abang dan kakak walaupun mama ngelarang sebenarnya. Tapi setelah masuk ICU akhirnya mama secara terang-terangan ngabarin abang dan kakak. Namanya juga ibu-ibu. Takut anaknya malah stres papanya masuk rumah sakit. Tapi yang namanya anak ya tetap anak. Apapun yang terjadi sama orangtua harus dikabarin. Dan abang langsung terbang dari Bima ke Pekanbaru dengan rute yang maha dahsyat. Bima-Bali-Jakarta-Bandung. Ke Bandung biar bareng kakak ke Pekanbaru-nya.
Sooooooo ini adalah hari-hari dimana tenaga, emosi, pikiran, iman terkuras. Kita ganti-gantian nungguin papa di ICU. Tiap bentar mau masuk ICU nanya kondisi papa. Belum lagi dengan luar-biasa-banyaknya-orang yang mau jenguk papa. Kita harus tetap sabar dan berfikir jernih menjelaskan gimana kondisi papa kepada setiap tamu yang datang. And I'm telling you this, these times are really hard. Mana saya lagi musim ujian semester pendek pada saat itu. Emosi saya benar-benar diuji. Dan feeling-feeling tidak baik selalu menghantui tiap malam.
Bisa dibilang kondisi papa ada progress. Dan ga tau kenapa beberapa hari kemudian kondisi papa benar-benar memburuk. Sampai-sampai saya bisa membuat list situasinya saking banyaknya
- Paru-paru dipenuhi selaput keseluruhannya kurang dari 24 jam (diagnosis infeksi paru-paru)
- Ada juga yang bilang kanker paru-paru
- Terus kabar-kabarnya mau dikemoterapi
- Gagal ginjal
- Cuci darah
- Tingkat oksigen rendah
- Gula tinggi
- Dan lain-lain
Dan saya tidak bisa berkata apa-apa mengetahui semua fakta itu. Tiap malam mikir, Ya Allah pasti sakit banget badan papa sekarang ini. Saya selalu berjanji pada diri sendiri untuk selalu berfikir logis. Dan puncak kelogisan saya sampai pada titik "Ya Allah I know he's suffering right now please take away all of his pain I'm okay with whatever Your decision is". Dan ya, kejadian rupanya.
Tanggal 17 Agustus. Hmm saya ga sanggup cerita kronologisnya. Intinya dokter ngabarin kita kalo memang ga ada tindakan yang bisa diusahakan lagi. Saya sudah siap dari kemarin-kemarin. Mama juga udah siap. Kita udah pernah diskusi sebelumnya. Abang dan kakak saya mungkin belum siap tapi mereka bisa berfikir logis. Keluarga besar saya yang ga siap, dan mereka menangis sejadi-jadinya meruntuhkan kesiapan yang sudah saya bangun sebelumnya.
Ada satu hal yang sangat saya ingat. Ketika kami (keluarga, teman, sahabat, orang-orang terdekat papa) ngumpul di ruang ICU untuk melepas kepergian papa, kami membaca segala macam bentuk doa maupun baca yasin. Saya bisa lihat sudut mata papa basah. Entahlah... Apakah beliau sedih meninggalkan kami selama-selamanya atau bahagia terharu dicintai sebegitu besarnya sehingga ada banyak orang yang melepasnya. Dan ketika kami selesai membaca surat yasin, berakhir pula lah detak jantung papa. Beliau pergi untuk selamanya. Saya terdiam. Kemudian melihat mama, abang dan kakak.
Nyata sekali sakit yang saya rasakan pada saat melihat mereka. Benar-benar pedih. Tatapan mata kehilangan mereka menusuk batin saya. This is 100% real. Selama ini saya cuma lihat di film, tv, novel atau dimana lah itu. Kehilangan ga pernah sesakit ini. Kepergian ga pernah sepedih ini. Dan berderai-derai lah air mata saya sambil membuat tulisan ini mengingat rasa sakit itu. Orientasi hidup saya telah pergi. Sejenak saya berfikir apa gunanya hidup, kuliah, bekerja, berumah tangga, sukses tanpa ada papa yang bisa menyaksikan itu semua. Ga lepas-lepasnya saya melafalkan Al-Fatihah untuk mengusir pemikiran itu. Allah Maha Adil. Allah yang Maha Kuasa. Dia tau apa yang baik untuk kita dan semua pasti ada hikmahnya.
Dan disaat itu, hadir juga teman-teman yang menunggui saya sejak kondisi papa kritis. They help me a lot. Beruntung punya teman yang benar-benar ada ketika saya terpuruk. Beruntung ada pelukan hangat yang meredakan kesedihan. Beruntung ada bahu untuk bersandar. Beruntung ada canda dan tawa yang mereka usahakan untuk menghibur saya. Saya beruntung punya mereka.
Dan tentang mama.
Saya tahu,
sesakit-sakitnya saya lebih sakit mama. Mama kehilangan belahan jiwanya. Pria
yang telah dicintainya berjuta-juta kali selama 25 tahun terakhir ini dan
hingga akhir hayatnya nanti. Bersama pria itulah ia membangun kehidupan dari
bawah hingga kami berkecukupan seperti saat ini. Bersama pria itulah ia
mendidik tiga orang yang anak yang seringkali bertingkah laku macam-macam.
Bersama pria itulah ia menghadapi si bungsu, anak yang paling sering membangkang
perkataan orang tuanya, ingkar janji, mengecewakan harapan orang tua, manja,
egois, apatis dan segala hal-hal tidak baik lainnya. Bersama pria itulah semua hal telah dilalui. Dan mama telah melakukan tugasnya sebagai istri yang baik hingga
tarikan nafas terakhir pria itu.
But life's happened.
Semua kehidupan pasti bermuara. Perbedaan hanya pada waktu saja. Secara fisik papa memang ga ada lagi. Tapi papa selalu hidup di hati kami masing-masing. Enough to say, we miss you pa. Masih akan ada banyak tumpahan air mata setiap mengingat papa. Tapi tenang aja, we're doing okay kok pa. Papa ga usah khawatir. Kami bakal jaga mama baik-baik. Kami bakal jagain apa yang berharga bagi papa dan hal-hal yang papa tinggalkan untuk kami. Kami bakal tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang mewarisi sifat-sifat papa.
So.......
Pa,
How was there?
Adek rindu.

No comments:
Post a Comment